Rangkaian HUT Ke- 7, Dirut RSUI Sebut Berawal RS Pendidikan, Berlanjut Pusat Rujukan Kesehatan Se-Jabar

Beberin.com, KOTA DEPOK — Diketahui rumah sakit pendidikan adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang mempunyai fungsi utama sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan secara terpadu. Tempat ini digunakan oleh mahasiswa kedokteran, kedokteran gigi, perawat, dan tenaga kesehatan lainnya untuk belajar langsung dan berlatih menangani pasien.

Sedangkan Rumah Sakit Pusat Rujukan Kesehatan yakni fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan yang menangani pasien dari tingkat pertama. Alur ini dimulai dari Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas atau klinik. Jika butuh penanganan khusus, pasien diberi surat rujukan ke rumah sakit tipe B, C, atau Pusat Rujukan Nasional (tipe A).

Maka bertepatan dengan usia ke-7, Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI) menunjukkan perkembangan yang semakin signifikan. “Berawal sebagai rumah sakit pendidikan Universitas Indonesia, RSUI kini terus memperkuat posisinya sebagai pusat pelayanan kesehatan sekaligus salah satu rumah sakit rujukan di Kota Depok dan Jawa Barat,” ujar Direktur Utama RSUI, dr. Kusuma Januarto, Sp.OG., Subsp. Sabtu (15/8/2026).

Dijelaskannya, bahwa perjalanan RSUI tidak terlepas dari dukungan Universitas Indonesia (UI), Fakultas Kedokteran UI (FKUI), pemerintah, tenaga kesehatan, serta berbagai pihak yang sejak awal ikut membangun dan mengembangkan rumah sakit tersebut. “Jadi, RSUI mulai beroperasi sebagai rumah sakit pendidikan Universitas Indonesia pada 2019. Kehadirannya menjadi bagian penting dari konsep University Based, yang menempatkan rumah sakit sebagai bagian tidak terpisahkan dari ekosistem pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan,” jelas dr. Kusuma.

Ia menyebutkan, bahwa pendidikan kedokteran tidak dapat dipisahkan dari pelayanan kesehatan. Pendidikan dan pelayanan itu seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Untuk menjalankan pendidikan, kami juga harus menjalankan pelayanan dengan baik. “Artinya, sejak awal berdiri RSUI juga mendapatkan dukungan dari para dokter dan tenaga kesehatan FKUI serta Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kolaborasi tersebut menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun RSUI sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus fasilitas pelayanan kesehatan,” ucap dr. Kusuma.

Diceritakannya, ketika melewati ujian besar pandemi COVID-19. Itulah salah satu babak terpenting dalam perjalanan RSUI terjadi ketika pandemi COVID-19 melanda Indonesia.Berada di lingkungan Universitas Indonesia dan memiliki karakteristik lokasi yang relatif terpisah dari kawasan padat, RSUI kemudian dipercaya menjadi salah satu rumah sakit rujukan dalam penanganan COVID-19.

Pada masa tersebut, RSUI bergerak cepat mengembangkan berbagai fasilitas pelayanan, mulai dari layanan vaksinasi hingga perawatan pasien COVID-19. Dukungan pemerintah, tenaga medis, dokter-dokter muda, serta berbagai pihak menjadi kekuatan penting bagi RSUI dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan tersebut.

 

“Waktu era COVID, rumah sakit ini bahkan menjadi rumah sakit rujukan nasional. Saat itu pemerintah sangat mendukung. Bapak Presiden dan Bapak Menteri Kesehatan juga datang langsung untuk melihat perkembangan RSUI,” papar dr. Kusuma.

Ia juga mengungkapkan, bahwa saat pandemi tersebut tidak hanya menjadi ujian bagi RSUI, tetapi juga menjadi momentum percepatan pengembangan infrastruktur, sumber daya manusia, dan kapasitas pelayanan. Setelah pandemi berlalu, RSUI justru tumbuh dengan kapasitas yang semakin besar.

Dengan kapasitas rumah sakit terus bertumbuh dan berkembang RSUI terlihat dari peningkatan kapasitas tempat tidur. Jika sebelumnya RSUI memiliki sekitar 200 tempat tidur, kini jumlahnya telah mencapai 361 tempat tidur.

Selain itu, RSUI saat ini memiliki 43 tempat tidur ICU, 14 NICU, serta 9 kamar operasi.Pengembangan tersebut belum berhenti. Dalam satu tahun ke depan, manajemen menargetkan kapasitas RSUI dapat meningkat hingga 500 tempat tidur. Penambahan kapasitas juga akan dibarengi dengan pengembangan fasilitas operasi dan perawatan intensif.

Jumlah kamar operasi ditargetkan meningkat menjadi 12 kamar, sementara kapasitas layanan ICU juga akan terus diperkuat. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan kesehatan. Saat ini, RSUI melayani sekitar 1.500 hingga 1.600 pasien setiap hari, baik peserta JKN maupun pasien non-JKN.

“Kami terus mengembangkan layanan, baik JKN maupun non-JKN. Harapannya pelayanan kepada masyarakat semakin baik dan kebutuhan kesehatan masyarakat dapat kami layani secara optimal,” ungkap dr. Kusuma.

 

SAID