Beberin.com, KOTA DEPOK — Teror adalah tindakan atau usaha menciptakan rasa takut, kengerian, atau ketakutan yang ekstrem dan meluas dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk mencapai tujuan tertentu, seringkali politik atau ideologis, dengan menimbulkan ketidakstabilan dan memaksa perubahan perilaku pihak lain. Ini bisa berupa serangan fisik, ancaman, atau menciptakan suasana ketidakamanan untuk memanipulasi psikologis massa atau penguasa.
Dinilai dengan penertiban PKL di Taman Jalan Jawa ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai solusi dan nasib para pedagang kecil di tengah perekonomian yang sedang terpuruk. Tidak ada keberpihakan Pemkot Depok kepada rakyat kecil.
Seperti yang dilakukan aparat Satpol PP Kota Depok yang dianggap sebagai menebar teror ingin mematikan pedagang dan warga dikawasan Komplek Perumnas Depok Utara, Kelurahan Beji, Kota Depok, Jawa Barat.
Tindakan Satpol PP tersebut, menjadi suasana mencekam, bahkan ketakutan saat satu truk mobil dengan 5 minibus berisi aparat Satpol PP Kota Depok memasang garis kuning larangan berjualan bagi sejumlah pedagang yang sudah sejak 10 tahun mencari rejeki.
“Jadi sebelumnya, suasana di Taman Jalan Jawa, cukup semarak dengan beragam kuliner di jajakan para pedagang. Diantara lain yang paling jadi favorit pengunjung yakni Soto Mie, Lontong Sayur dan Bakso, dan sebagainya,” ujar tokoh masyarakat Perumnas Depok Utara, Samsu Rizal, kepada pewarta, Senin (15/12/2025).
Ia menyebutkan, bahwa pengunjung kebanyakan anak-anak sekolah, dan anak-anak kompleks, serta para orang tua, remaja, pemuda, lansia melakukan beragam aktivitas, ada yang berolahraga, berkesenian, anak-anak melukis dan bermain mobil-mobilan.
“Jadi dengan begitu, Taman Jalan Jawa tampak hening, hanya terlihat para pedagang meratapi nasibnya dan beberapa warga yang kecele karena tidak menemukan makanan favoritnya lagi,” ucap Rizal sapaan akrabnya.
Menurutnya, bahwa warga kina juga sangat kecewa dengan arogansi aparat Satpol PP Kota Depok yang dinilai merusak kenyamanan warga berkumpul dengan anak-anak yang selama ini ceria bermain di taman tersebut.
“Jadi, sangat mengecewakan. Pasalnya Satpol PP Depok telah ‘mematikan’ perekonomian rakyat. Mereka tidak mendukung pedagang kecil yang memiliki hak sebagai warga negara untuk berusaha yang dijamin UUD,” tutur Rizal geram.
Diceritakannya, bahwa dengan keberadaan para pedagang yang sebagian juga para pelaku UMKM warga sekitar didukung RT dan RW, bahkan juga diatur ketertiban dan kebersihan demi menjaga kenyamanan pengunjung.
“Jadi, dianggap tidak ada yang dilanggar. Karena, keberadaan Taman Jalan Jawa ada di dalam kompleks, bukan di jalan umum. Kendati, ada sedikit lalulintas tersendat, itu karena saat jam masuk dan pulang sekolah. Masih bisa diatur. Sebaiknya antar jemput anak sekolah gunakan motor, jangan mobil,” imbuh Rizal.
Sementara itu, Bambang selaku warga setempat menceritakan, bahwa dinilai sangat lucu, karna setiap kali Pemilu, calon wali kota dan anggota DPR kerap hadir ke Taman Jalan Jawa.
“Bahkan, mereka ngemis untuk minta di dukung dari warga dan para pedagang. Namun, sekarang mereka semua diam. Bahkan infonya dari Satpol PP Kota Depok, pelarangan berdagang merupakan perintah Walikota Depok,” keluh Bambang.
Ditempat yang sama Indah, salah satu korban penertiban yang sudah 10 tahun berdagang dilokasi tersebut, mengeluhkan, bahwa dirinya merasa dimatikan oleh Satpol PP Kota Depok. Karena usahanya, telah dihilangkan dan sumber mata pencahariannya para pedagang.
“Diakuinya, bahwa saya menjual mainan anak-anak. Maka, dengan larangan berjualan berarti hilangnya piring nasi untuk keluarganya. Berati keluarganya tidak bisa makan lagi,” keluhnya menyedih.
Ia juga menambahkan, bahwa pemandangan pagi ini yang tersisa hanyalah garis kuning Satpol PP yang melingkari area favorit para Pedagang Kaki Lima (PKL), ini menandakan hilangnya sumber mata pencaharian mereka. “Bahkan, para pedagang terpaksa harus gigit jari, setelah operasi penertiban mendadak yang dilakukan oleh Satpol PP Kota Depok itu,” tutupnya.
SAID










Leave a Reply